Kamis, 16 Oktober 2014

Kekerasan Pada Anak, Siapakah Yang Seharusnya BertanggungJawab?

Berita Interpretatif


            Mencuatnya video dan berita kekerasan anak Sd di Bukit Tinggi bukan lagi hal mengejutkan. Bahkan bisa dibilang kasus ini tak berujung. Setelah mencuatnya kekerasan seksual pada anak dan pembunuhan anak SD oleh teman sekolahnya.
            Pada tahun 2013 terdapat 1.620 kasus pengaduan mengenai kekerasan, dengan mayoritas merupakan kekerasan seksual sebesar 51% atau sekitar 817 kasus. Hal ini bisa diasumsikan bahwa, setiap bulan hampir 70 - 80 anak menerima kekerasan seksual. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Arist Merdeka Sirait memprediksi, pada tahun 2014, kasus kekerasan terhadap anak akan meningkat. Bahkan jumlah kasus diperkirakan bisa melonjak hingga 100 persen. lalu harus berapa banyak anak-anak sebagai generasi muda yang akan menjadi korban dan siapakah yang seharusnya bertanggungjawab?
            Pertanyaan ini sering kali menjadi bahan saling lempar antara pihak sekolah dan orang tua setiap kali peristiwa seperti ini terjadi. Sejauh tahun 2014, 10 kasus kekerasan terjadi di sekolah dengan pelaku yang bekerja di lingkungan sekolah seperti antaranak, tenaga pendidik, penjaga sekolah, penjaga kantin hingga satpam sekolah. orang tua sebagai pihak yang menitipkan anak disuatu lembaga sekolah pasti merasa tempat yang dipilih merupakan tempat yang layak serta baik untuk anak-anaknya. Dipihak lain, Sekolah merasa hanya untuk kegiatan belajar bukan untuk sebagai wadah mendidik karna proses mendidik seharusnya di lakukan oleh orang tua ketika dirumah atau di luar wilayah sekolah.
            Banyak pihak berpendapat, kekerasan ini tidak seharusnya terjadi dengan adanya komunikasi yang baik antara anak,orang tua dan pihak sekolah. Ketika anak melakukan tindakan yang tidak baik maka sekolah wajib melaporkannya ke orang tua murid, begitu pula dengan orang tua yang bisa melaporkan guru ke mendiknas jika guru melakukan hal yang tidak benar. Itulah beberapa kutipan dari  Psikolog ,Rose Mini.
            Akan tetapi , kekerasan bisa di bentuk dari perilaku sehari-hari orang tua yang dilihat serta di dengar oleh mereka. Seto Mulyadi menuturkan "Kejadian itu, sering luput dari pengamatan dan seolah-olah anak yang salah."

-end-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar