Minggu, 17 Juli 2011

202 kata di 202 kertas




Kalo emang kita ngga bisa sama-sama, berarti tuhan telah mempersiapkan rencana lebih baik buat aku sama kamu. Tiara menaruh bunga mawar diatas meja lalu meninggalkan ruangan kelas. Hari ini tiara ingin pulang lebih awal. Bukan karena sakit atau ada janji dengan orang lain, melainkan untuk menghindar dari cowok yang di bencinya. Handphone Tiara terus bergetar. Beberapa kali cowok itu menelepon dirinya. Tiara tak memperdulikannya, ia malah mempercepat langkah sambil berharap cowok itu ngga ada di depan sekolah.

“ tiara..!!” seseorang memanggil dengan lantang. Tiara malah mempercepat langkahnya seakan-akan tidak mendengar. “woy tiara!” orang itu bernada kesal.

Handphone Tiara terus saja bergetar. Dengan perasaan campur aduk, ia pun langsung masuk ke dalam mobil. Ngga peduli siapa yang manggilnya tadi. mobil mulai meninggalkan sekolah, perlahan tapi pasti ia menoleh kearah belakang mobil. Hatinya hancur berkeping-keping. Dada terasa sesak. Air matanya jatuh. Handphonenya masih saja bergetar. “gue benci loe,rio! Jahat!” tiara melepaskan batre dan simcard. Perasaannya sekarang benar-benar sakit.

***
“ Tiara dapet salam dari Rio.” Siwi menatap dirinya yang sedang sibuk mencatat. Tiara hanya terdiam. Berenti menulis. Dan menatap balik Siwi.
“ ketemu dimana?” tanya Tiara sedikit malas.

“ketemu di gerbang tadi pagi. Kan dia nganterin Anita,ra.” Siwi membalikkan badannya dan melanjutkan menulis. Siwi merupakan Sahabat terbaik Tiara. Ia mengerti atau paham bentul tentang perasaanya terhadap Rio dan juga saksi dari semua kisah asmara mereka yang tergolong amat romantis.

“ siw siw..” tiara mencolek pundak siwi dengan pulpen..

“ kenapa?” Siwi menoleh kebelakang. “sebentar-sebentar!” bangkunya diangkat dan diposisikan menghadap ke Tiara. “kemaren kemana pulangnya cepet banget,ra?”

“ ngga enak badan gue,siw.” Tiara berenti sejenak. “ hmmmm.. boleh cerita ngga,siw?” siwi menganggukan kepala sembari tersenyum. Seperti siap menampung semua keluh kesah tiara.
“ kemaren loe liat ngga si Rio jemput si nita?”

“ iya gue ngeliat kok. Si Rio masang muka heran tau pas loe nyelonong gitu aja. Secara nita manggil-manggil loe tapi loe ngga denger.”

“ ooh jadi yang manggil gue itu si nita. Pantes!” tiara mulai kesal. “pada saat itu juga si rio terus-terusan telepon gue. Ngga ngerti mau ngapain. Dia ngga punya otak kali ya?! Mau jemput ceweknya tapi gue yang di telpon. Gue siapanya dia coba? Ya kan?”

“ wah dasar tuh Rio.!” Siwi ikut-ikutan kesal. “ rio merhatiin loe sampe loe masuk kedalam mobil. Tapi pas mobil loe jalan, dia langsung pura-pura ngeliatin yang lain karena nita dateng. Dan loe tau ga? Parah gilaaaa! Si nita meluk Rio di depan umum!!” siwi bercerita menggebu-gebu. Emosinya naik. Meja didepannya pun menjadi korban gebrakan dirinya. Tiara menunduk. Matanya berkaca-kaca. Ia tak bisa lagi menahan air mata.

“ gue juga liat kok.” Tiara mengusap air matanya yang mulai mengalir deras. “ gue emang ngga layak mendapatkan dia. Sekarang nita orang yang tepat buat jagain dia. Percuma gue mengharapkan dia terus.”

“ ngga ada yang bisa bilang loe layak atau ngga buat dia. Sampai kapan loe bertahan kaya gini? Sampai loe benar-benar ngga berdaya? Gue tau, cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja. Tapi cinta datang bukan untuk menyakiti.” Siwi terdiam sejenak. Mengatur nafas. Sesekali menatap Tiara yang air matanya tambah deras. Siwi memegang tangan Tiara.

“ ra, denger ya.. loe udah setengah tahun begini. Galau terus. Gantung pula. Kaya Ngga punya semangat hidup. Jujur, gue ngga kuat ngeliat loe selalu tersakiti karena Rio. Walau kadang kalian terlihat seperti sepasang kekasih. Tapi inget ada Nita. Nita ceweknya dia,ra! Gue salut sama perjuangan loe buat nglupain dia,tapi kenapa perjuangan itu berenti lagi? Dimana kata ‘IKHLAS’ yang selama ini loe pegang teguh?”

“gue.. gue udah ikhlas. Ikhlas banget kalo Rio buat Nita. Walau gue sekarang bukan punya dia. Tapi Rio selalu datang disetiap gue udah bisa ngelakuin itu. Muncul tiba-tiba dan ngasih harapan lebih lagi. Salah gue juga, gue lupa kalo dia milik Nita. Siw, gue pengen bebas dari dia! Gimana caranya?” tiara menatap siwi penuh harap pertanyaannya akan dijawab.

“ hmmm.. loe ganti nomor deh. Atau ngga.. yah gue juga bingung gimana caranya. Maaf ya tiara?” tiara hanya tersenyum. Bagaikan mendung pergi dan matahari datang menyambut dengan gembira.

***
“ tolong kasih ini ke Rio.” Tiara menyodorkan sebuah kotak kecil ke siwi.

“ lah? Loe mau kemana ra? Ngga sekolah hari ini?” Siwi diam mematung di gerbang sekolah. Sambil menerima sebuah kotak kecil itu. Dia merasa ada yang aneh sama sahabatnya. Datang ke sekolah pakai baju bebas tanpa dosa dan memberikan sebuah kotak kecil. Yang entah apa isinya.

“ mau liburan ke ausy. Hehehe” Tiara memeluk Siwi. “ jaga diri baik-baik ya? Jangan mau digodain sama Bimo. Soalnya gue ngga bisa sangar-sangar lagi sama dia. Bilangin bimo juga, gue minta maaf.” Tiara memeluk siwi kembali. Sahabatnya tambah bingung. Pusing mencerna kalimat demi kalimat tadi dan menghubungkan dengan keanehan yang sedang berlangsung.

“ maksud loe apaan ra? Gue ngga ngerti! Loe sakit?” siwi memegang jidat tiara. “ ngga panas kok. Kesambet apaan loe ra? Tapi besok masuk sekolah kan? Masuk kan? Ra? Masuk kan?” siwi mulai mengerti dan khawatir hal yang dipikirkannya menjadi nyata.

“ jangan lupa kasih kotak itu ke Rio ya? Bubye Siwi sayaaaaang.. gue besok ngga masuk. Maaf pergi mendadak.” Tiara mulai meninggalkan Sahabatnya yang menatap kepergiannya dengan air mata. Siwi masih mematung.

“ jaga diri loe juga tiara. Gue pasti kangen sama loe!” siwi baru sadar ditangannya ada sebuah kotak kecil. “isinya apaan ya?” lalu siwi pergi meninggalkan gerbang dan masuk kekelas kembali.

***
 5 tahun kemudian..
                Suasana meriah membaur lepas di halaman rumah Tiara malam itu. Secercah kebahagian terpancar jelas disetiap tamu yang hadir. Di tengah kemeriahan acara, terlihat sesosok wanita cantik menghampiri Tiara yang sedang sibuk membereskan gaun ungu marunnya. Tiara kaget saat Siwi muncul dihadapannya secara tiba-tiba.

“ra, gue bawa seseorang.” Siwi memberi isyarat keseseorang. “ini Rio,ra.” Rio hanya tersenyum.
“ maaf ya tiara gue dateng tanpa diundang.” Rio membuka pembicaraan. Tiara tetap terdiam.  “ masih inget kotak ini?” ngeluarkan sebuah kotak kecil berwarna pink yang sudah  pudar. Tiara terkejut. Dia tidak menduga bahwa siwi emang benar-benar menjalani amanatnya dengan baik dan Rio masih menyimpanannya. Hingga dibawa kembali kotak itu kehadapannya.

“202 different sentences in each paper. Dan di kertas 202, gue tambah yakin kalo gue sebenarnya juga sayang sama loe.” Rio mengambil salah satu kertas dari dalam kotak.  lalu dibacakannya “ can you love me back?” suara Rio sangat lantang dan nyaring. Para tamu menoleh kearah suara. Tiara tetap diam ditempat tanpa membuka mulut sedikitpun.

“ disetiap doa Tiara, nama Rio selalu ku sebut.” Rio mengambil beberapa kertas lainnya dan membacakannya lagi “tiara cape nangis. Cape sakit hati karena Rio. Kapan Rio ngerti perasaan Tiara?” “tadi Tiara nangis karena liat Nita meluk Rio. Tapi Tiara percaya Nita malaikat yang baik buat Rio.” “Rio,aku rela sakit demi kamu. Rela bertahan.” “ Rio,makasih udah ngajarin aku tentang cinta dan mengikhlaskan cinta.” Rio memegang tangan Tiara.

“maaf ya aku udah nyakitin kamu terus. Bikin Tiara nangis,dan ngasih harapan kosong. Tapi Rio sadar kalo Rio sayang sama Tiara setelah kamu menghilang tanpa jejak. Setiap saat rio kepikiran terus sama kamu dan selalu kangen. Dan akhirnya aku jujur ke Nita dan hubungan kitapun berakhir. Nita ngebantuin aku juga mencari informasi tentang kamu kemana-mana. Dan malam ini aku datang untuk membalas 202 kalimat itu. Tiara.. will you marry me?” mengeluarkan sebuah cincin. Tiara menarik tangannya secara perlahan.

“ dulu aku emang sayang banget sama kamu. Selalu rela bertahan diatas ke pedihan. Aku rela air mataku menetes demi orang yang aku sayang. Aku dulu juga suka saat-saat kita lagi berdua bersama bagaikan sepasang kekasih. Aku suka semua yang kita lalui. Tanpa memikirkan keberadaan Nita ditengah-tengah kita. Tapi.. itu dulu Rio.. 5 tahun yang lalu. Masa lalu ya masa lalu. Sekarang aku udah punya pengganti kamu. Tanpa ada air mata dan kepedihan. Jadi maaf aku ngga bisa nerima kamu... malam ini aku tunangan dengan Nino”

Tiara menepuk bahu Rio dan Berbisik dikupingnya “temukan kalimat yang ke 203 di perempuan lain yang lebih baik dari aku.”Lalu meninggalkan Rio dan hatinya yang berkeping-keping.

The end

Cinta yang tersembunyi


“ mit, nanti jadi ke rumah gue?” tanya sinta sembari membereskan buku ke dalam tas.
“ jadi..” jawabku enteng.
“tapi mampir ke pom bensin dulu ya?”
“ iya. Bensin habis lagi? Boros amet itu motor.”
“ bukan mau ngisi bensin.” Sinta melewati aku yang sedang berdiri di depan pintu.
“terus ngapain?” aku mempercepat langkah agar sejajar dengan langkah sinta.
“ mau...” jawab sinta jail.  “mau ketemuan sama cowok ganteng. Hahahahaa” dengan spontan aku menjitak kepala sahabatku itu.
“ siapa lagi? Banyak banget deh. Yang kemarin-kemarin aja gue ngga hafal.” Sinta mengelus-ngelus kepalanya sambil menyalakan motor.
“ loe aja ya mit yang bawa? Oke oke..” aku hanya bisa menatap sinta dengan kesal. Dan dia membalas dengan menutup wajahnya.

***
“ sin.. yang tadi siapa lagi?”
“ kenapa? Ganteng ya? Kalo loe mau ambil aja. Rela kok gue.” Sinta sibuk sendiri di depan webcam.
“ iya ganteng. Tapi gue engga minat sama sekali. This heart just for him. “ aku hanya membolak-balikan halaman demi halaman sebuah majalah. Pikiranku mulai ke cowok itu lagi.
“ yah.. jangan galau lagi ya sayang?” sinta menatap mataku dalam-dalam. Tersenyum. Lalu melanjutkan berfoto-foto di webcam.
“ okey. I am fine, honey.” Hatiku mulai gelisah dan bimbang. Maaf sinta? Aku telah berbohong. Aku sebenarnya ngga fine. Aku sakit. Sakit banget.
“ makan yuk, mit? Nyokap tadi nyuruh kita makan kan?” sinta mematikan lapty lalu pergi meninggalkan kamarnya. Aku kekamar mandi. Mencuci muka agar aku kelihatan BAIK-BAIK saja didepan maminya sinta.
            Sinta sudah duduk manis didepan meja makan. Aku memberi senyum ke mbok dan sinta, kemudian aku duduk. Senyuman palsu. Sangat palsu. Maaf..

***
            Pagi ini aku bangun kesiangan. Terpaksa  naik ojek biar sampai ke sekolah dengan cepat.
“ mit, mata loe kenapa?” baru nyampe udah ditanya beginian. Emang keliatan ya? Aduuuuh..
“ kenapa apanya?” aku balik pertanya.
“ bengkak mata loe. Habis nangis ya?” sinta mulai curiga.
“ mana nangis? Kebanyakan tidur mungkin. Tau kan gue kebo? hahaha” aku menaruh tas. Keluar kelas. Lalu lari kekamar mandi.
            Aku menatap dalam-dalam wajahku. Benar-benar bengkak. Sinta saja sampai tau. Aku terus membasahi wajahku agar terlihat fresh. Terus menerus. Berulang-ulang kali. Hingga getaran handphone mampu membuatku berenti mencuci muka dan aku balik ke kelas.
“ loe kemana aja mit?”
“ ke kantor. Tadi diajak ngobrol sama bu fika. Terus kekamar mandi deh.” Jawabku ceria.
“ pantes gue cari dikelas sebelah ngga ada.” Aku hanya melemparkan jawabannya dengan senyuman. “tapi loe ngga apa-apa kan mit?”
“ I am fine honey. I always fine.” Maaf aku berbohong lagi.
“ yakin?”
“ yakin banget lah! Sini-sini gue peluk biar loe yakin. hahahaaa” aku langsung memeluk sinta.
“ ih apa-apaan sih mit..” sinta berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku. Aku hanya bisa tertawa-tawa tanpa memperdulikan guru didepan kelas.

***
            Jam 9:45 wib. Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan ke luar dan menuju ke kantin.
“ mit, mau ke kantin ngga?”
“ ngga. Masih kenyang.”
“ mana kenyang? Daritadi loe ga makan apa-apa juga.”
“ tadi pagi udah sarapan.”
“ itu kan pagi, sekarang udah siang. Makan yuk? Ayo...” sinta menarik tangaku.
“ yah.. jadi kecoretkan tuh!”
“ makanya jangan nulis mulu. Muka loe udah pucet sayaaaaaaang!!!!”
“ iiih... ini lebih penting daripada makan. I am fine.” Aku mulai kesal. “yaudah gue nitip roti aja. Ini uangnya.” Sinta mengambil uangnya lalu meninggalkanku sendiri didalam kelas.

Waktu istirahat sudah habis. Semua anak masuk dengan membawa  berbagai macam makanan. Aku terus menulis. Tanpa memperdulikan sedikitpun kegiatan mereka.
“ ini mit rotinya. Sama susu.” Sinta meletakkan semuanya didepan buku. Dengan sigap aku menutup buku itu.
“ iya makasih.” Aku tersenyum ke sinta.
“iya sama-sama.” Jawab sinta sambil mengunyah. “ daritadi loe nulis apa sih? Kayanya seru banget.”
“ biasa nulis cerpen. hehehe” aku membuka roti lalu berdiri membuang bungkusnya di tempat sampah diluar kelas. Aku merasa sangat pusing. Semua seperti sedang berputar. Aku udah ngga kuat. Aku memengang  tangan teman cowok ku yang sedang lewat, lalu semua terlihat hitam.
***
“ mit loe kok udah masuk? Kan kata dokter harus istirahat 4 hari.” Sinta membantu ku masuk ke dalam kelas. Aku sedikit lemas untuk berjalan. Aku tertatih-tatih.
“ gimana mau tenang dirumah. Buku gue yang warna ungu itu hilang. Loe liat ga sin?”
“ buku yang mana? Kemaren semua buku loe udah gue masukin kok.”
“ tapi ngga ada di tas.” Dengan tenaga yang tersisa aku memeriksa kolong meja. “kemana ya?”
“ seberapa penting sih itu buku? Buku catatan doang kan?” sinta bantu cari  di kolong. Dalam hati, sinta memohon maaf, “maaf ya mita itu buku sebenarnya ada di gue?”
“ penting banget. Kalo hilang bisa gawat. It’s like my soul. Hehe” aku menyempatkan diri untuk bercanda disaat panik seperti ini. 
“ nanti gue cariin ya.. loe pulang aja ya cantik? Nafas loe udah sesek begitu.” Sinta menggenggam tanganku.
“ anterin gue pulang aja yuk? Udah ga kuat.” Lalu sinta mengantarku ke mobil.

****
Sinta terus memperhatikan buku berwarna ungu itu. Ada yang beda dari buku ini. Entah mengapa, ada rasa penasaran yang tinggi untuk membaca isinya. Ragu-ragu namun perlahan sinta membuka sampulnya. Di halaman pertama terdapat tulisan,
“ STORY MY LOVE IS SO BAD. I WOULD BE A SWORN LOVE FOR HIM.”
Di pojok bawah sebelah kanan terdapat inisial M & V
“ V? Siapa v ?” sinta tertanya-tanya. “ apakah V itu si Vino?”
Sinta terus membuka dan membacanya penuh tanya.
“ dear, vino.
Tadi aku habis main dari rumah sinta tapi aku ngbohong sama sinta. Maafin aku sinta? Aku ngga mau kamu tau kalo aku sebenarnya sakit karena vino. Aku rapuh. Bener-bener rapuh karena vino. I am fine in front of all people,althouht in fact not like that. Mungkin aku orang yang munafik, tapi aku ngga mau orang tau kalo aku sedih, kalo aku kangen dia.
Vino.. aku kangen kamu. Meski kamu disana ngga tau apa yang aku rasa. Kenapa kamu masuk kedalam kehidupanku? Kenapa kamu hadir untuk menyakiti hatiku?
Vino.. your is my firts love. Hi.. listen to me! Yesterday, today and tomorrow i always loving you!”
Sinta terdiam. Sinta bingung harus berkata apa lagi. Mita ngga pernah cerita tentang kesedihan hatinya kepada dirinya. Sinta hanya tau kalo mita memang suka sama vino, tapi ngga sejauh ini perasaannya. Dihalaman berikutnya,
“ dear vino, my lovely..
Semenjak kamu ngga sengaja nendang dada aku dan bikin aku jatuh dari pertandingan itu.. jantung aku sering terasa sakit. Berdetak lebih kencang setiap kali mendengar keributan yang luar biasa. Aku merasa trauma saat kemarin melihat ada orang yang berkelahi di jalan raya. Tapi aku ikhlas telah sakit karenamu. Aku terima dengan lapang dada. Ini resiko telah MENCINTAIMU. Resiko aku telah SAYANG KAMU. Walau aku tau kamu pasti ngga akan jadi milikku.
Tapi aku hanya ingin, kamu berkata AKU ADALAH MILIKMU. Vino.. percayalah padaku bahwa aku sayang kamu lebih dari aku mencintai diriku. Aku engga tau kenapa bisa begini. Aku udah terbiasa tersakiti oleh tingkah lakumu. Aku terima semua ini.”

Sinta meneteskan air mata. Ia buka lembar demi lembar. Air matanya terus mengalir, ketika di halaman ke 25 mita berkata,
“ dear vino, my honey..
Tadi aku kedokter sama mimi, aku diperiksa. Dan tahu kah kamu? Kata dokter yang baik hati tadi, aku terkena sakit jantung. Masih stadium 2. Aku engga sedih. Aku engga nangis. Yang nangis malah mimi. Aku heran kenapa mimi nangis tersedu-sedu saat tau aku mengidap penyakit ini.
Aku sakit karena mu. Tapi aku ikhlas lahir batin. Aku rela kau menanamkan penyakit yang mematikan di tubuhku. Vino.. terimakasih ya.. always loving you J
Sinta terus membaca buku ungu itu dengan deraian air mata.
“ dear vino, aku benci kamu. Aku capek  kamu sakitin terus. Aku mau kamu tau isi hatiku, sebelum aku pergi..”
Dihalaman 30..
“ dear vino.. aku ingin menjadi cinta sejatimu. Walau faktanya aku ingin memiliki kamu seutuhnya,tapi itu bagai menangkap bayanganku sendiri. Amat sulit.
Vin.. aku berhasil terlihat baik-baik saja didepan semua orang, sinta juga percaya bahwa aku baik-baik saja. Ini karena kamu. Vin.. aku kangen kamu. Pasti kamu sibuk banget, sampai 4vbulan engga hubungin aku. Always loving you,vino J  “

***
Pagi-pagi sinta sudah datang dengan mata bengkak dan buku ungu milik mita. Sinta duduk dikoridor sambil melihat ke arah gerbang sekolah. Mita yang ditunggu-tunggu lama datang. Buku ungu itupun di bolak-balik.
“ eh mita.. tumben dateng agak siang.” Sinta mengandeng tangan mita.
“ loe kenapa? Habis putus sama siapa sampe nangis gitu? Hahahaa..” mita terus meledeki sinta.
“ biasa ketauan sama cowok-cowok gue. Hahaha” sinta menyembunyikan buku ungu itu dibelakang badannya. “duduk sini dulu yuk? Sarapan mata. Lumayan kalo ketemu cowok kece.. hahaha..”
“ ayo deh. Udah lama juga engga masuk sekolah. Bosen di rumah.”
“ enak yaaa tidur-tiduran dirumah, tanpa beban si Monster-monster tugas.”
“ mana enak peleh! Ketinggalan pelajaran.”
“ tapi loe engga apa-apa kan? Kata dokter sakit apa?” sinta mulai memancing-mancing pembicaraan.
“ kata dokter, cuman kecapean aja. Masuk angin. Susah deh kalo udah kena penyakit orang kismin. Hahahahaaa” mita tertawa terbahak-bahak.
“ hahaha.. tampang oke, tapi penyakit kismin. Hahaha” sinta ikut tertawa, walau hatinya berkata “loe tetep ngga mau jujur sama gue.”
“ ngga apa-apa penyakit kismin yg penting nanti dapetin cowok kaya. Loh? Apa hubungannya ya? Hahaha”
“ hahaha... cie.. masih ngarepin vino nih? Ehem.. masih suka ya? Hahahaaa”
“ mana suka? Kan gue udah benci sama dia. Ngapain juga ngarepin dia. Mending gue nunggu Bruno Mars sekalian deh. Lebih keren.. just the way you are.. hahaha” mita malah bernyanyi.
“ mending Justin Bieber deh,mit. Brondong cuy! hahahaaa” sinta tertawa sambil mengetik pesan (sms) ke seseorang. “masuk aja yuk? Sarapnya udah parah nih. Hahaha” pesan terkirim dan memasukkan ponselnya ke kantong baju.

***
Jam 16:12 WIB di suatu taman.
Sinta duduk sendiri dibawah pohon. Orang yang di tunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
“ sin.. sory telat.” Suara seorang cowok dari arah belakang.
“ iya gapapa. Duduk sini aja. Depan gue.” Sinta memasang wajah serius.
“ ada apa sih? Serius nih kayanya. Hahaha”
“ duarius gue,vin.” Sinta mulai meres-remas tangannya.
“ tentang apa?” vino mulai terbawa aura seriusnya si sinta.
“ apa enaknya sih ngasih harapan kosong ke cewek?”
“ siapa yang ngasih harapan?” vino kebingungan.
“ gue tau loe ngga punya maksud jahat. Tapi loe ngga berhak ngasih harapan kosong ke cewek manapun.” Sinta mulai menaikkan nada suaranya.
“ yang loe maksud siapa sih?”
“ klo ada cewek yang suka sama loe dengan tulus, apa yang akan loe lakukan?”
“ gue akan bilang terimakasih.”
“ just it?” sinta kaget dengan jawaban vino yang simpel.
“ iya. Please gue ngga ngerti. Sebenernya kita lagi ngbahas siapa?”
“ kalo orang itu ada didekat loe gmana? Dia rela loh disakitin sama loe. Sampe gue pun ngga tau.”
“ iya, siapa?”
“ Mita. Sahabat gue satu-satunya. Selama 2 tahun ini dia tuh sayang sama loe. Walau loe udah nyakitin dia.” Sinta meneteskan air mata.
“ apa? Mita?” vino kaget.
“ dia sangat rapih menutupi semua kesedihan hatinya. Dia ikhlas disakitin loe. Dia rela hatinya terluka. Gue mohon,vin...” sinta menarik nafas. Ponselnya bergetar. Ada yang meneleponnya.
Sinta nangis sejadi-jadinya lalu pergi bersama vino meninggalkan taman.

***
“ tante,mita kenapa?” sinta memeluk miminya mita. Vino hanya terdiam.
“ mita ada di ruang ICU. Tadi sakitnya kambuh.” Jelas miminya dengan tegar,tanpa tetesan air mata. Vino bener-bener ngga ngerti dengan semuanya.
“ aku sama vino boleh masuk tante?”
“ iya masuk aja.”
Sinta membuka pintu penuh semangat. Air matanya bertambah deras saat melihat sahabatnya terbaring lemas. Disana banyak sekali selang dan infusan.
“ mit.. gue bawa vino.” Sinta mengelus-ngelus tangan mita. “ayo mita pegang ini. Ini tangan vino. Your lovely..” sinta menarik tangan vino.
“ please pegang tangan mita,vin. I think, its makes her more better.” Tangan vino mulai mengelus-ngelus tangan mita.
“ mita.. ini aku vino. Mita bangun ya?” vino mulai meneteskan air mata.
“ hai.. honey bangun. Melek. Ini ada vino.” Sinta mengelus-ngelus kepala mita.
“ mita.. makasih udah tulus sayang sama aku. Makasih. Maaf aku udah jahat sama kamu.” Vino terus menggenggam tangan mita. Mita hanya terdiam. Mita benar-benar koma.
“ mita.. melek ayo melek. Cepet sembuh. Minggu depan kan konsernya bruno,mit.”
“ mita.. ayo melek. Ayo kita main lagi. Kita bercanda-canda lagi di belakang sebelum latihan dan pemanasan kaya kemaren,mit. Kita nyanyi-nyanyi lagi sambil nunggu giliran tanding. Kita tanding berdua lagi di depan anak-anak. Kita yang ngga mau mengalah dalam pertandingan.” Air mata vino jatuh ditangan mita. Mita meneteskan air mata. Sinta dan vino tambah menangis.
Vino terus menggenggam tangan mita. Sinta menarik vino untuk keluar. Dirinya udah ngga kuat melihat semuanya.
Diruang tunggu, mereka berdua masih terus menangis. Sinta membuka pembicaraan,
“mita bilang dibuku ungunya.. ‘ ibu peri tolong bilang ke vino kalo aku selalu menyebut nama dia di setiap doaku. Cuman ini yang bisa aku ungkapkan sebagai tanda rasa sayangku kepada dirinya.’”
“ segitu sayangnya kah dia sama gue?”
“  dan asal loe tau.. dia itu punya penyakit jantung. Awalnya gue ngga tau dia punya penyakit ini klo gue ngga baca buku ungunya dia.” Sinta menarik nafas. “loe inget ngga 2 tahun yang lalu udah nendang dada dia dan jatuh?”
“ 2 tahun yang lalu? Saat kita lagi seleksi teakwondo untuk tingkat kota itu?”
“ iya. Ini efek dari tendangan itu. Semenjak loe nendang dada dia sampe jatuh. Jantung dia suka merasa sakit. Dan hebatnya lagi gue engga tau.”
“ sumpah gue ngga ada maksud buat nendang dia! Gue ngga sengaja juga. Gue cowok bodoh!!!”
“ semua udah terjadi,vin. Loe nyesel juga udah telat.”
“ gue jahat banget sih! Ngga peka. Gue jahat!” vino memukuli kepalanya.
***
kemarin udah 2 setengah bulan mita dirawat di ICU, tanpa ada laporan tentang kesehatan dia yang mulai membaik. Semua serba memburuk.
Hari ini, gue, vino dan mimi sedang berada di tempat peristirahatan terakhir mita. Semua berdoa untuk mita. gue membawakan tanda tangan bruno mars pesanan mita dari dulu, vino membawakan bunga tulip kesukaan mita, dan mimi membawa senyum yang tulus.
“ terimakasih atas cinta tulus kamu kepadaku. Maafkan aku mita. Aku sudah membaca semua isi buku ungu. Aku salut sama kamu. Aku bangga jadi cinta sejati dan cinta terakhirmu.” Vino menatapi nisan mita lalu pergi meninggalkan pemakaman itu dengan setetes air mata bangga dan haru.

THE END


Kamis, 14 Juli 2011

mohon maaf

maaf ya kawan.. Cerpennya saya hapus. Saya belum percaya diri untuk mempublikasi kan hasil karya saya. Hehehe
hanya mampu setengah jam buat percaya diri,setelahnya saya melempem. Hahaha
mana udah ada yg baca! Salah udah ini mah.. Jleb! *umpetin muka ke kolong kasur